Adibhasan's Blog

Just another WordPress.com site

KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN Karantina Bahan Kuliah Ke-10 Undang-undang dan Kebijakan Pembangunan Peternakan. – ppt download


Menimbang : 1.bahwa keanekaragaman hayati berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer; 2.bahwa keanekaragaman hayati yang meliputi ekosistem, jenis dan genetik yang mencakup hewan, tumbuhan dan jasad renik (mikro-organism), perlu dijamin keberadaan dan keberlanjutannya bagi kehidupan; 3.bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi, yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia; 4.bahwa diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional seperti tercermin dalam gaya hidupnya, diakui pula adanya peranan penting wanita, untuk memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional tersebut melalui inovasi-inovasi dan praktik-praktik yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan; Nations Convention on Biological Diversity tersebut dengan Undang-undang.

Source: KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN Karantina Bahan Kuliah Ke-10 Undang-undang dan Kebijakan Pembangunan Peternakan. – ppt download

November 13, 2016 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

INILAH AKHIRNYA


Inilah akhirnya..

Akhir dari sebuah drama…

Inilah akhirnya…

Akhir dari sepenggal kisah cerita…

Perjalanan awal yang berkesan…

Sedikit bumbu akan angan masa depan…

Inilah akhirnya…

Seperti dua sisi jalan yang tidak pernah bertemu…

Seperti pertemuan dua laut dengan dinding pembatas yang tidak terlihat…

“Maka, nikmat Tuhan kamu berdua manakah yang Kamu dustakan”

Inilah akhirnya…

Meski berakhir…

Nikmat Tuhan tidaklah pernah berakhir…

Bagian-bagian cerita memang harus diakhiri…

Untuk memulai kisah-kisah baru di bumi ini…

Dan, inilah awalnya…

Kisah-kisah baru dengan semangat menggebu…

Penawar hati yang sendu…

Membarakan mata yang sempat sendu…

Inilah awalnya…

Sebagai Wujud ketaqwaan dan keihlasan

 

-paradox’0516

May 11, 2016 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Detik-detik Final


Sudah cukup kau merusak ibadah ku

Tidakkah kau puas telah merusak ibadah ku?

Kau menari di atas Al Qur’an yang ku baca,

Kau melintas dalam bacaan shalat ku,

Dan kau selalu terselip dalam do’a yang kupanjatkan kepada Illahi…

Tapi kenapa ketika bertemu bukan bayangan indah yang terlintas,

Imagi kehilangan mengharu menyesakkan dada,

Mulut tak bisa lagi merangkai kata

Pikiran pun kosong menguapkan isinya,

Saat yang dibahas hanya perbedaan.

Perbedaan itu, seolah dinikmati bersama untuk dibahas,

Pemaksaan kehendak atau hanya bersikap menunjukkan ego masing-masing,

Tidak bisa kubilang pandangan ku lah yang benar, dan pandangan kau lah yang salah,

Tidak ingin juga ku mendengar hanya pandangan kau lah tepat, dan pandangan ku yang keluar jalur,

Terbersit tidak pernah ku ingin memaksakan,

Terbertsit tidak pernah ku rela kau paksa,

Ini aku dengan ego ku, dengan keangkuhan dan keegoisan ku,

Itu lah engkau yang berdiri di atas karang prinsip mu,

Sudah cukup kau merusak kau merusak ibadah ku,

Lillahi, kulakukan ini atas nama Allah…

Atas petunjuk dan tanda-tanda kekuasaannya-NYA,

Maka jawablah juga dengan menyebut nama Allah…

Paradoks, 9 Agustus 2015/ 20 Syawal 1436H

August 14, 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Edelweis Merah Berduri (Part 7)


Udara dingin menyambut Handi dan Arinal saat turun dari PO Sahabat. Meski jam menunjukkan jam tiga pagi lebih, jalanan diramaikan oleh Pemuda Pemudi beransel dan ber-carriel. Ada yang berpenampilan urakan, ada juga yang berpenampilan rapi. yang jelas mereka adalah para petualang. Petualang petualang penakluk Gunung Gede-Pangrango.

Gunung Gede-Pangrango merupakan dua puncak yang masing-masing memiliki ketinggian 2958 mdpl untuk Gede, sementara Gunung Pangrango bertinggian 3019 mdpl dan berada dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). TNGGP sendiri berada dalam tiga wilayah kabupaten yakni Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Pasar Cipanas dimana Handi dan Arinal sekarang berada merupakan salah satu kecamatan dan Kabupaten Cianjur.

Keberadaan GGP memang sudah sangat tersohor di Jawa Barat. Tidak hanya menjadi tujuan wisata bagi komunitas pecinta alam di tingkat universitas, juga diminati oleh kalangan siswa-siswa SMA. Seperti yang memenuhi jalanan pasar Cipanas sekarang ini, mayoritas dari mereka adalah siswa siswi SMA.

Toko-toko di Pasar Cipanas pada jam begini memang masih tutup, tapi ini digantikan dengan pedagang-pedagang sayuran yang menggelar dagangannya di depan pertokoan, di pinggir jalanan. Handi kembali mengecek handphonenya kembali, di sana edi sudah menggambarkan ciri-ciri lokasi dimana dia standby menunggu kami, Handi dan Edi. Di depan toko Bata. Setelah jalan beberapa puluh meter terlihat lah lokasi yang sama seperti yang Edi gambarkan dalam bbm nya tadi. Wajah Edi yang terlihat buram, karena perjalanan jauh dari Jatinangor, berubah ceria senantiasa seketika saat melihat kedatangan kami.

“Kalian lama sekali, saya sudah lama GJ menunggu di sini”, sapa Edi dengan riangnya.

tanpa menjawab pertanyaannya Edi, Ari mengulurkan tangannya seraya berkata,

“Edi, apa kabar?” tangan Ari disambut hangat oleh Edi dan dengan sedikit adegan berpellukan, dua orang Sahabat yang sudah tidak berjumpa sekitar 2 tahun kembali dipertemukan.

Sejenak itu juga Handy segera melupakan mimpinya tadi di dalam Bis. Dengan Edi pun Handi telah lama tidak bertemu,  sekitar sebulan dua bulan yang lalu.

March 9, 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Edelweis Merah Berduri (Part 6)


PO. Sahabat itu melaju menyursuri gerbang tol Jagorawi. Berlari memecah malam. udara dingin berhembus dari jendala-jendela bis tanpa air conditioner. perlahan mata ku yang tadi masih kuat menahan kantuk, mulai terasa sayu. Gelap meliputi mataku. Dan aku pun tertidur.

—–

Kepala ku tengadahkan ke langit memandang Purnama dengan bintang-bintang disekelilingnya. aroma rerumputan ditiup angin gunung menyerebak di udara. Udara yang bersih, bebas polusi. Sungguh indah malam ini, dengan latar Gunung Marapi yang berdiri dengan gagahnya.

Kukembalikan pandangan ku depan. 8 teman ku yang lain sudah makin menjauh tanpa kusadari. Ternyata memandangi langit sejenak tadi telah memperlambat langkahku. Sebelum mereka semakin jauh, kuperlebar langkah ku dan ku percepat mendekati mereka.

Satu jam, dua jam waktu terus berlalu. energi kami yang tadi terkumpul mulai terkurai. Azhari, salah satu tim yang paling banyak minum sepanjang pendakian. Padahal jika dilihat secara fisik jelas saja dia lebih atletis. Tapi Marapi telah menguras habis tenaganya. Tidak hanya dia, beberapa anak-anak juga memang sudah terlihat kelelahan.

Pemandangan yang cerah karena terang bulan sudah tidak tampak lagi. telah tergantikan dengan pemandangan hutan yang rapat. Ciri khas pegunungan Sumatera hanya mengandalkan bekas jalan pendaki sebelumnya,  tanpa adanya tanda rambu-rambu atau segala macamnya. jadi sangat berpotensi sekali untuk tersesat.

ke-9 pendaki ini hanyalah pendaki SMA pemula yang bermodal nekat. Tanpa ada pengetahuan sama sekali terkait dengan hutan gunung. Tapi itu lah kami 9 siswa kelas XI dari salah satu SMA terfavorit di Bukittinggi.

Hingga sampai pada titik Pintu Angin *). kebetulan aku tidak bawa penunjuk waktu sama sekali. namun perkiraan ku sekitar jam 1-2 malam. Langit yang cerah kembali menjadi atap perjalanan kami. Walau begitu senter-senter dari tangan kami tetap menyala menyapu medan di jalur depan. semakin lama, tingkat kecuramannya semakin meningkat. Dari langit yang cerah mulai terlihat keanehan, awan berarak dari arah utara dengan cepat mengarah ke arah gunung. Angin gunung berubah seketika menjadi angin lembah yang membawa butiran embun. jadilah udara nya beku menyelimuti sekitar kami. lampu-lampu senter yang tadinya kami arahkan ke bawah, sekarang kami arahkan ke atas.

Luar Biasanya, tangan kami bisa meraih ujung dari cahaya senter kami maisng-masing. leader kami mengomandoi untuk tidak bergerak. cari posisi senyaman mungkin, menunggu sampai awan kembali menghilang. Semua sepakat, karena akan sangat berbahaya juga meneruskan perjalanan ditengah cuaca seperti ini. Sesaat istirahat kami masih bisa bercanda ria. Salah satu teman ku yang membawa radio mulai menyetelnya. mencari frekuensi di atas gunung memang tidak mudah, klo pun itu pada besar kemungkinan adalah RRI. Tapi malam ini memang RRI lah yang dicarinya. siaran sepak bola Piala Dunia Antara Prancis melawan Italia.

Tak terasa perasaan lelah menyerang tubuh kami, dan kami semua tertidur.

Tidak tahu berapa lama kami tertidur, tiba-tiba saja aku sadar dan mencoba menutup mata. aku menyadari seluruh tubuhku kaku. tangan dan kaki ku tidak bisa ku gerakkan. Apakah ini Hypotermia. penyakit yang paling menakutkan setiap pendaki gunung ini menyelimuti pikiranku.

aku merasa sangat dengan kematian yang sangat. tak terasa kilatan-kilatan gambar-gambar semasa bercanda di ruang kelas meluncur mundur di dalam pikiranku. gambar teman, serta ibu dan bapak ku. apakah ini gambaran sebelum kematian??, aku pun berteriak dalam hati…

aaaakkkk…

Tetiba ada sebuah tangan yang mencoba mengoncang pundak ku. Dan suaranya tentu saja aku ingat. Are, ternyata dia mencoba menyadarkan setelah teriakan ku tadi. Ternyata aku kembali bermimpi akan pengalaman pertama ku saat mendaki Gunung Marapi di Bukittinggi kampung tercinta ku. Pengalaman yang kurasa paling dekat dengan kematian.

PO sahabat telah lama  melewati Pasar Ciawi. beberapa waktu kemudian, turunlah kami di Pasar Cipanas. Di sana lah aku bertemu sahabat ku satu lagi, Edi.

———————–

*) titik perbatasan vegetasi, antara hutan kering dan cadas batu.

February 12, 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Rumah Makan Spesial Batok’ an, 28 Januari 2015


Perasaan ini kembali menghampiri diriku. Kali ini di salah satu rumah makan yang berada di Jalan Raya Pasuruan arah Surabaya. Salah satu rumah makan yang bercirikan spesialis batok’ an. Pertemuan ini merupakan sambungan tali persaudaraan yang terjalin ketika masa perkuliahan di negeri Kangguru. Perempuan paruh baya yang memiliki dua anak dan bersama suaminya bertemankan salah satu kepala bagian di biro ku. Dia dengan anak laki-laki pertama yang berumur sekitar sembilan tahun dengan adiknya yang lebih kecil sekitar 10 bulanan. Jadilah perbincangan di atas masakan khas jawa itu perbincangan yang seputar anak. Sebagai satu-satunya yang masih membujang, jadilah perbincangan itu bagaikan percakapan yang memberikan nasihat kepadaku.

Awalnya memang aku tidak begitu peduli dengan percakapan seputar itu, karena memang tidak begitu menarik minatku. Sambil tetap menikmati batok’an di hadapan, mereka tetap saja dengan perbincakan akan kelucuan bocah 10 bulanan itu. Tentang bagaimana kebiasaannya menggigit jari, kebiasaan dia yang tidak mudah senyum, sampai bagaimana dia makan dengan lahapnya.

Diceritakanlah pula bagaimana repotnya pengurusan anak yang dihadapkan pada kedua orang tua yang kantoran. Bagaimana mencari sesosok yang mengurus anak saat orang tua ke kantor dan bagaimana maraknya kejahatan terhadap anak yang dilakukan oleh pengurus rumah tangga ini. Lama – lama keperhatiakan pulalah anak kecil yang lucu ini. Pandangan ku kosong menapat anak ini. Tidak pula memang aku dustai bahwa anak ini memang lucu. Namun secara perlahan, entah datang dari mana, seakan – akan ada sesuatu yang menekan jantungku. Nafasku pun menjadi berat. Ada yang aneh terjadi pada diriku. Ingin saja rasanya tangan ini meraih pipi tembem bayi tersebut. Tapi tentu saja hal ini urung ku lakukan. Kualihkan kembali pandangan ku melihat – lihat suasana rumah makan yang nampak asri tersebut. Sebuah konsep rumah makan yang sangat menarik hati dan menentramkan hati setiap pengunjungnya. Gazebo – gazebo yang berangka kayu sawit, dengan atap dari genting. Namun tetap saja sesuatu yang menekan jantungku itu tidak berkurang sakitnya.

Kucoba menutup mata, menarik kembali semua ingatanku, hari – demi hari ke belakang. Orang – orang di sekitarku dan tentu saja keluarga nun jauh di Bukittinggi sana. Masih saja belum tau apa yang kurasakan, namun ada ketentraman yang terpancar dari wajah bayi kecil yang tidak mudah senyum itu yang tertangkap oleh indra ku.

Dari perbincangan dan percakapan tersebut tergambar bagiku betapa rumitnya sebuah rumah tangga. Seorang suami yang nantinya harus menafkahi istri dan anaknya, memastikan pendidikan terbaik buat sang anak, serta banyak tuntutan lainnya. Keputusan dan konsekuensi jelas terlihat di depan mata ku.

Sepasang suami istri yang bekerja sebagai pegawai harus merelakan anaknya dititipkan bersama orang tua yang berada di luar kota. Jika tidak, dititipkanlah kepada seorang pengurus rumah tangga. Pengurus Rumah Tangga ini pun tidak kalah mudah mencarinya, apalagi dengan maraknya pemberitaan baby sitter yang menganiaya anak majikannya.

Jakarta dengan pesonanya telah memberikan dampak psikologis bagi pasangan rumah tangga baru. Kehidupan Jakarta yang keras serta kewajiban mencari nafkah bagi keluarganya, seringkali malah membuat dia makin jauh dari keluarganya. seorang anak yang seharusnya menerima didikan dari sosok seorang ayah, masih tertidur tatkala sang ayah pergi bekerja. sementara sang Ayah pulang, si kecil telah bergumul dengan selimut kecilnya.

Kadang pikir ku bertanya bagaimanakah pengajaran akan seorang anak dewasa ini seharus dan sebaiknya dilakukan???

Adakah jawaban lain dari “tepat memilih & quality time” yang lebih tepat???

tulisan ini menyelingi kisah mawar dan gunung.

January 28, 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Gunung dan Mawar (part 5)


Karena ada perbedaan waktu dalam membooking tiket, jadilah kami berempat berada pada gerbong yang berbeda. Aku sama irhas, dan edi sama ujang. Kereta Malabar kami ini berangkat dari stasiun Bandung pukul 15.30 wib, dan di jadwalkan akan sampai malang pukul 7.05 wib. Aku yakin setiap kursi pada Kereta ini sudah habis ter-booking, kalaupun itu kosong, aku yakin itu karena ketinggalan kereta. selain karena minggu ini high session, juga karena tadi selintas saya mendengar kabar ada beberapa orang yang ketinggalan kereta.

High Session, kali ini bertepatan dengan libut Isra’ Mijrat, dan perjalanannya pun hampir mirip lah. Jika Rasulullah Perjalanannya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, maka kuibaratkan Perjalanan ku dari Bandung – Malang. Perjalanan Rasulullah dari Masjidil Aqsho ke Sidratulmuntaha ku ibaratkan Perjalanan dari Malang Ke Puncak Mahameru. terlalu mengada-ngada memang tapi itulah diri ku yang kadang mencari pengandaian dan persamaan lain agar terkesan lebih dramatis.

Di samping merupakan warga lokal, penumpang kareta mayoritas dipenuhi oleh wajah – wajah kota, wajah-wajah terpelajar dengan gaya berpakaian yang beragam, namun satu hal persamaan dari mereka, yakni siap dalam menaklukkan alam. kemeja lapangan lengan panjang, Celana Lapangan dan sepatu gunung, cukup menggambarkan jati diri mereka. ada yang berseragam mengatasnamakan komunitas pecinta alam tertentu, ada juga yang seperti kami, bergaya seadanya, dengan sendal dan pakaian ala kadarnya.

——-

December 31, 2014 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Gunung dan Mawar (part 4)


Bandung, 5 Juni 2013

Jam di tangan ku menunjukkan pukul 15.30 wib, 5 menit sebelum kereta berangkat. Pengeras suara sudah beberapa kali memperingatkan bahwa kereta akan segera jalan. Kembali ku tarik handphone dan menghubungi seseorang di sana. Begitu diangkat, “Has, dimana?, kereta akan segera jalan nih..” sambar ku tak sabar lagi, “ini sudah masuk parkiran”, “ok, gerbang Utara, gw tunggu di pintu masuk”.

Aku menunggu di pintu masuk sambil memegang tiket ku dan juga tiket teman ku. Peraturan baru dari KAI mengharus kan setiap tiket harus di cap sebelum naik kereta dengan sebelumnya menunjukkan identitas diri. Tiket ku sudah di cap, sementara tiket Irhas belum, dia tidak akan bisa masuk tanpa tiket ini.

Raungan si ular besi sudah berbunyi dua kali, menandakan siap berangkat semetara Irhas belum juga tampak. Perlahan-lahan gerbong mulai bergerak. Aku panik. mengetahui Keadaan ku, petugas yang bertugas mengecap tiket bertanya, “masih ada teman yang belum datang?”, “ada pak, sudah di parkiran”, sambar ku cepat. Dengan sigapnya petugas tadi membunyikan peluit yang tergantung di lengan kiri nya, memberikan semacam kode kepada petugas lainnya. Kereta berhenti kembali, sejurus itu juga aku melihat seorang yang lari dengan carriel di bahunya, dia Irhas.

Setiba di meja petugas, langsung ku serahkan tiket ku ke dia. Tak kalah sigapnya, sang petugas langsung menyuruh kami langsung menuju kereta tanpa mencap tiket tersebut terlebih dahulu. “lapor di stasiun berikutnya”, Tanpa pikir panjang, jdi lah kami berlari sekencang mungkin menuju kereta. Beberapa saat badan kami telah masuk kereta secara sempurna, sang ular besi langsung melaju dengan mantapnya.

***

Hampir ketinggalan kereta merupakan salah satu momen yang paling diingatnya ketika mengenang perjalanan Menuju negeri Puncak Para Dewa.

Bus Trans Jakarta yang dipumpanginya sudah memasuki kawasan Kramat Jati. Berapa menit lagi memasuki Pasar Rebo. Berhubung sudah pukul 22.00 lebih, jalanan sudah mulai lancar. Begitu sampai halte Pasar Rebo, dia langsung menghubungi Are, seorang teman satu organisasi di kuliah dulu yang sekarang kerja di Jakarta. Jodoh memang mempertemukan langkah mereka. Are yang ada keperluan training, mengambil cuti lebih panjang sebelum balik ke Kalimantan. Jadi lah dia jadi salah satu tim nya untuk menuju Gn. Gede.

Sembari menunggu Are, dia menuju swalayan terdekat untuk membeli cemilan selama dalam perjalanan nanti. Are datang, dan perjalanan mereka pun dilanjutkan, naik bis menembus jalanan ibu kota, menuju Cipanas, Kab. Cianjur.

—–

December 12, 2014 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Gunung dan Mawar (part 3)


“Saat kaki melangkah lebih jauh dari pada biasanya,

saat tangan menggenggam lebih erat dari pada biasanya,

saat mata telah mencapai batas pantauannya,

saat tekad telah mengkristal,

saat semangat tidak lagi terbendung,

saat hati telah menyetujui kesemuanya,

maka tak akan ada lagi yang akan menghalangi kecuali tangan-tangan-NYA membelokkan tujuan mu.”

tiba-tiba rangkaian prosa itu muncul begitu saja dari pikirannya. Pencampuran antara niat, tekad, ambisi, dan keegoisan telah membuatnya menetapkan tujuanya dan keinginannya hanya dapat dihentikan oleh dua hal, yaitu oleh keinginannya sendiri atau oleh keinginan Tuhannya.

dalam perjalan ke meeting point, pikirannya kembali melayang me-rewind kembali setiap kegiatan alam yang pernah dijalaninya. kembali teringan kenangan-kenangan dulu saat pertama kali mengenal dunia alam bersama dengan teman SMA-nya, sampai pendakiannya yang terakhir saat 17 Agustusan.

Kenangan lucu merekahkan senyum di mulutnya. Kesan-kesan kecapean, letih, putus asa kembali terlintas dipikirannya. termasuk kisah cinta yang dipersaksikan oleh Gunung Semeru. Kisah cinta yang berlanjut ke Pelaminan itu menjadi salah satu momen yang paling diingatnya.

November 27, 2014 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Gunung dan Mawar (part 2)


Atmosfer Jakarta berada di luar kebiasaannya. Udara sejuk setelah hujan turun, membawa aroma khas aspal jalanan bercampur asap knalpot yang terus lalu lalang. Udara segar itu pun masuk merayap ke dalam ruang persegi sebuah kos-kosan di Jakarta. Dia tidak mempedulikan udara sekitarnya karena dia memang tidak merasakannya. Udara segar itu dikalahkan oleh putaran kipas angin yang tergantung di langit-langit kosnya. Dia hanya fokus pada perlengkapan kamping yang ada di depannya, memastikan semua perlengkapan dalam keadaan baik dan siap digunakan.

Tenda yang baru dipinjam, carriel, matras, nesting, sleeping bag, kompor, golok, trash bag, dan perlengkapan lainnya, sudah teronggok didepannya. Seperti sudah kebiasaannya sebelum melakukan perjalan jauh, pikirannya melayang jauh memprediksi perjalanan yang akan ditempuh 2 hari ke depan dan perlengkapan apa yang paling tepat untuk dibawa. karena barang yang tidak penting tapi tetap dibawa hanya akan memberatkan saja.

Dia tidak mau seperti perjalannya sebelumnya yang ke Gunung Rinjani, perlengkapan yang seharusnya jadi perlengkapan kelompol, dibawa masing-masing oleh anggota. Walhasil setiap orang membawa tenda, sungguh tidak efektif. Namun perjalan kali ini lebih tertata rapi. Sudah ditentukan siapa yang membawa perlengkapan kelompok dan siapa yang membawa logistik.

Jam dinding kamarnya menunjukkan pukul 21.30. tapi  jam itu lebih cepat 20 menit dari kenyataannya. Memajukan beberapa menit dari waktu sebelumnya merupakan kebiasaan masa sekolah yang dibawa-bawa hingga sekarang. Dulu saat masih sekolah, ibu nya sengaja mengatur jam di seluruh rumah sepuluh menit lebih cepat, karena tau kebiasaan anak-anaknya yang sering terlambat bangun. Kalau dipikir-pikir cara ini sebenarnya memang tidak efektif, kara toh pada akhirnya seisi rumah sudah tau akan kebiasaan ini. Tapi tetap saja di gunakan.

Berbeda dengan jam yang di rumahnya dulu waktu di kampung, jam ini di setting awalnya lebih cepat 15 menit dari  biasanya, namun jadi cepat lebih 20 menit diduga karena memakai baterai alkanine, itu hanya dugaannya yang berdasarkan pengalamannya selama ini.

Setelah memastikan semua barang-barang yang diperlukan berada di depannya, dia mulai melakukan packing. Diawali dengan memasukkan trash bag dengan posisi terbuka. Hal ini dilakukannya karena memiliki dua fungsi, yaitu untuk melindungi tas dari noda perlengkapan, dan melindungi perlengkapan kalau-kalau ada rembesan air dari luar. Setelah itu dia mulai memasukkan matras untuk membetuk carriel agar lurus dan enak untuk disandang. Dilanjutkan dengan sleeping bag paling dasar diikuti nesting kompor dan perlengkapan kecil lainnya, dan packingnya pun selesai.

setelah selesai melakukan kontak-kontak dengan teman seperjalannya nanti, dia pun mengawali langkahnya keluar kosan, menuju halte trans Jakarta.

November 26, 2014 Posted by | Uncategorized | Leave a comment