Adibhasan's Blog

Just another WordPress.com site

ketika kejujuran tidak lagi dihargai dan kecurangan yang dielu-elukan…


BEDAH EDITORIAL MEDIA INDONESIA
Bencana besar sedang mengintai bangsa ini. Bukan tsunami yang bersumbu pada gempa berkekuatan 8,7 pada skala Richter. Bukan pula kemelut politik akibat ketidakpuasan masyarakat. Juga bukan karena keterpurukan ekonomi akibat pemerintah salah kelola.
Musibah yang lebih besar ialah punahnya sikap kejujuran. Lebih menyeramkan lagi karena pengikisan nilai-nilai kejujuran itu disemai di dunia pendidikan.
Pertanda itu kian jelas. Kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional direstui. Seorang pelajar yang melaporkan adanya sontekan legal yang dimotori gurunya sendiri malah diperlakuka tidak adil. Keluarganya diusir sehingga terpaksa mengungsi.
Kasus itu terjadi di Sekolah Dasar Negeri Gadel II Surabaya, Jawa Timur. Seorang siswa itu melaporkan kepada orang tuanya—Widodo dan Siami- bahwa dia diperintahkan gurunya untuk menyebarkan sontekan massal soal ujian kepada rekannya saat ujian kepada rekannya saat ujian nasional. Kedua orang tuanya kemudian melaporkan hal itu kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
Kepala sekolah itu dicopot dan dua guru mendapat sanksi penurunan pangkat. Akan tetapi, persoalan tidak lantas beres. Warga desa bereasi. Mereka mengintimidasi dan mengusir keluarga Widodo. Kini Widodo dan keluarganya kembali ke rumah orang tua mereka di Gresik.
Tragis. Betapa mahalnya harga kejujuran. Lebih tragis lagi, kejujuran semestinya menjadi roh pendidikan justru dimusuhi dan dilawan.
Pudarnya sikap kejujuran dipacu tiadanya sosok anutan.
Pendidikan semestinya tidak hanya menumbuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga mengasah kejernihan hati nurani.
Kita sungguh risau karena kejujuran kian tergerus dan bersalin dengan pemujaan terhadap kerakusan. Kita kian gagal membangun generasi yang jujur dan percaya diri.
Negeri ini masih menjadi ladang subur koruptor. Terutama karena kita tidak lagi mengajarkan kepada anak-anak untuk membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.
Demikianlah bedah editorial harian Media Indonesia tanggal 14 Juni 2011, yang dapat memberikan pelajaran banyak kepada kita.
Kejujuran yang tidak ada artinya
Pertanyaan besar muncul di kepala ini, apakah sama perasaan yang saudara rasakan dengan perasaan saya ketika membaca tulisan di atas?, perasaan sedih, prihatin, perasaan marah kelihat kejujuran tidak lagi ada artinya di muka bumi ini
Kejadian diatas menunjukkan bahwa kejujuran sudah sudah mengibarkan bendera putih. Kejujuran sudah menyerah kepada kata TIDAK LULUS. Karena saking takutnya kita akan hal tersebut, sampai-sampai mengajarkan kecurangan kepada generasi penerus bangsa. Allah maha melihat kawan!!!
Tidak sampai disitu, bukannya dukungan yang diberikan oleh masyarakat terhadap orang yang mencoba mengatakan kebenaran, tapi malah hujatan yang diterimanya, lebih parah lagi sekeluarga ini diusir dari lingkungan keluarganya.
Bom Waktu
“Guru Kencing berdiri murid kencing berlari”. Kita semua tentu pernah mendengar pribahasa itu. Guru sebagai panutan kedua bagi anak-anak setelah orang tuanya tentu akan tertanam dalam dirinya akan apa-apa yang diajarkan oleh guru tersebut. AJARAN-AJARAN KECURANGAN!!!
Jika kemarin mereka tersenyum tertawa melakukan kecurangan tanpa ada perasaan bersalah, apa yang terjadi belasansampai puluhan tahun ke depan ketika mereka-mereka ini yang memimpin masa. Kita mengembar-gemborkan gerakan anti korupsi, tapi tanpa disadari kita sendiri yang mengajarkan korupsi tersebut.
Apa yang kita tuai adalah apa yang kita tabur. Sekarang yang kita tabur adalah benih-benih kebohongan, benih-benih kecurangan, maka bukan dengan tanpa sadar lagi, tapi dengan kesadaran yang nyata kita sedang menciptakan KORUPTOR-KORUPTOR MASA DEPAN. Itulah bom waktu yang siap meledak beberapa tahun kedepan, Subhanallahi minzalik…
Kesalahan sistem pendidikan kah?
Sesuai dengaan pasal 3 undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidkan nasional, sistem pendidikan mempunyai fungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sungguh mulia fungsi dan tujuan dari sistem pendidikan kita ini. Dalam mewujudkan fungsi dan tujuan tersebut sudah selayaknya menjadi tugas kita bersama, jadi tidak hanya menjadi tugas dari pemerintah saja. Namun sepertinya semangat ini tidak sepenuhnya sampai pada setiap kalangan masyarakat. Mungkin mereka salah menafsirkan pasal 4 (2)-nya, yang menyatakan pendidikan diselenggarakan sebgai ssatu kesatuan yang sistematis terbuka dan multimakna. Mereka menafsirkan kata “terbuka” mungkin dengan nyontek massal, hahaha, cukup tersenyum miris kita mendengarnya.
UN yang bagaikan HANTU
Ketentuan kelulusan untuk tingkat sd/mi berdasarkan permendiknas no 2 tahun 2011, menurut pendapat saya tidak ada masalah karena sistemnya yang sudah bagus. Sistem kelulusan ditetapkan melalui rapat dewan guru dan sistem penilaiannya 60-40%. 60% untuk hasil ujian nasional dan 40% dari gabungan rata-rata semester 7,8,9,10 dan 11. Jadi mengapa kita harus khawatir dengan kelulusan peserta didik sekolah dasar karena toh penilaian akhirnya tetap ada pada dewan guru, bukan langsung dari pemerintah.
Dengan ketentuan kelulusan yang ditentukan oleh dewan guru saja sudah memunculkan pendidikan kecurangan, bagaimana dengan ketentuan yang ditentukan dengan nilai minimum seperti yang terjadi pada UN SMP atau SMA?, mungkin hal yang lebih parah lagi dapat terjadi, wallahu’alam…
Kondisi negara Indonesia tercinta kita ini sungguh sudah demikian parahnya. Mulai dari kasus centuriy yang tidak beres-beres, penyuapan hakim Syahrudin, penyuapan Nazaruddin terkait pembangunan wisma atlet, tersangka nunun dalam pemilihan deputi Miranda Gultom sebagai deputi BI, dan masih banyak lagi, sudah cukup menjerat bangsa ini. Belum lagi kelambatan KPK dalam melakukan pencekalan sehingga mereka sudah kabur lebih dahulu ke luar negeri.
Melihat kondisi yang kritis dari bangsa ini masihkah kita tetap mempertahankan pengajaran kecurangan bagi peserta didik???.
Maka dari itu saudaraku dan sobatku perlu bagi kita untuk memperhatikan hal-hal berikut:
1. Perlunya pembahasan yang lebih lanjut tentang sistem pendidikan di indonesia, khususnya dalam sistem penilaian kelulusan.
2. Perlunya menamkan kembali bahwa kejujuran itu adalah modal hidup, memperjuangkannya adalah tugas kita semua.
3. Sebagai keluarga yang memperjuangkan kejujuran sudah seharusnya kita memberikan penghargaan kepada keluaga Widodo-Siami.
4. Mendorong KPK agar lebih SIGAP dalam pemberantasan korupsi.

Oleh: Adib Hasan, Dirjen Kebijakan Publik Nasional, BEM KEMA UNPAD 2011.

June 15, 2011 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: