Adibhasan's Blog

Just another WordPress.com site

Jakarta – Bukittinggi, 1.379 KM dengan VERA


Setelah membaca tulisan abang Iwan Sunter yang melakukan perjalanan Jakarta – Surabaya – Jakarta dengan berlari jujur membuat ku sedikit malas membuat tulisan ini. Sederhana alasannya, merasa perjalanan ku yang melintasi Jakarta – Banten – Lampung – Sumsel – Jambi dan berakhir di Bukittinggi ini jadi sangat sederhana. Tapi satu hal yang penting bagi ku, tidak peduli seberapa berat dan jauh perjalanan yang kau tempuh, tapi pelajaran apa yang bisa kau ambil, dan seberapa besar perjalanan itu memberikan perjalanan itu memberikan manfaat bagi orang lain.

Buat bang Iwan Sunter, aku angkat topi, salut kepada mu, perjalanan mu telah mengispirasi diri ini kembali untuk menuliskan catatan perjalan ku, adventur ku.

Kamis, 24 Agustus 2014, 27 Ramadhan 1435 H

Memilih pulang kampung yang menempuh jarak +/- 1.400 KM dengan menggunakan sepeda motor (selanjutnya disebut “Mudik”), bagi sebagian orang merupakan hal gila, termasuk bagi diriku. Kepastianku mudik ini saja baru aku ambil persis satu minggu sebelumnya. Karena memang pilihan naik motor ini memang menjadi opsi cadangan ku, disamping menggunakan Pesawat Terbang atau naik bus umum.

Harga pesawat yang menembus Rp 1.400 jt, apalagi dengan sebulan sebelumnya gaji belum ada yang masuk ke rekening alias kantong kering membuat ku iseng untuk mencari teman perjalanan yang mau touring ke sumbar. Hingga aku posting di web backpackerindonesia.

Godaan untuk mengubah cara mudik itu muncul setelah turunnya rapelan gaji, dan turunnya harga tiket pesawat hingga di bawah Rp 900 rb. Namun ternyata godaan itu tidak dapat menggoyahkan niatku, akhirnya malam itu, 24 Agustus 2014, aku sampai di meeting point awal pemberangkatan mudik, di Pom Bensin Shell Daan Mogot.

Rencana awal, pertemuan memang pukul 19.00 wib, dan start berangkat skitar pukul 20.00 wib, namun aku sudah ijin sebelumnya untuk datang agak telat, yakni sekitar jam 20.30 wib, karna aku memang berniat untuk berangkat setalah menunaikan tarawih terakhir di Jakarta untuk tahun ini dulu.

Sesampainya aku di meeting point, sudah berada disana abang Indra, bro Rusdi dan Bro Galih. Dan satu orang lagi sudah menunggu di Balaraja, Banten, abang Bayu namanya. Jadi awal perjalanan ini akan dilaksanakan oleh lima orang ini.

Adapun profil singkat mereka seperti ini,

Abang Indra dengan Satria FU nya adalah orang yang nantinya pimpinan dalam touring mudik ini, karena dia lah yang paling berpengalaman diantara kami berlima. Dia sudah sering bolak balik jakarta – sumbar menggunakan darat, dan terakhir dia menggunakan Ninja pada tahun 2009. Penampilannya bisa dibilang tidak seperti rider2 club motor kebanyakan. Dia hanya menggunakan jacket jeans dan celana jeans yang itu pun sudah robek sana sini. Pas ditanya alasannya menggunakan celana itu, alasan sederhana, biar dikira penduduk lokal, jadi tidak akan di ganggu warga dalam perjalanan. Logis memang, hahaaha. Tujuan akhir Pekan Baru

Bang Indra

Bang Indra

Bro Rusdi dengan CB 100 siluman. Istilah siluman ini didapat dalam perjalana balik Sumbar – Jakarta, yang nanti kuceritakan. Penampilannya yang berbeda dari abang Indra hanyalah dia tidak memakai celana robek dan rompi jeans yang digunakannya terdapat beberapa emblem – emblem dari club – club motor, bisa dari kegiatan anniversari atau sejenisnya. Tujuan akhir Solok.

Bro Rusdi

Bro Rusdi

Bro Galih dengan Revo modifnya. Diantara kami berempat hanya dia yang lumayan lengkap dalam kostu touring. Dengan mengunakan rompi serta pelindung kaki dan tangan. Tujuan akhir Prabumulih – Sumsel.

Bro Galih

Bro Galih

Bang Bayu dengan Vixion be-remote nya. Jika bro Galih lumayan lengkap, maka Bang Bayu ini lebih lengkap lagi, dengan kostum jacket khas touring, rompi seta pelindung kaki dan tangan. Lengkap juga dengan membawa kunci – kunci motor. Namun sayang kebersamaan perjalanan kami singkat saja malam itu. Bang bayu dengan tidak rela harus kami tinggalkan di penghujung kota Cilegon, dikarenakan ada masalah pada motorya.

Dan aku sendiri dengan gandengan ku, VERA, sengaja huruf “Z” dicoret dari rangkaian guna memberi kesan ke cewe2an, upsss, hehehe.

Perjalanan dimulai sekitat pukul 21.00 wib. setelah semua perbekalan sudah dirasa cukup. Check point pertama adalah Balaraja, dimana disana telah menunggu bang dayat. Perjalanan awal dilakukan dengan formasi, Bang Indra paling depan, Rusdi, galih, dan aku sendiri.

Perjalanan awal bisa dibilang santai. Dengan kecepatan standar macet, 30 – 60 KM/jam. Karena memang malam itu merupakan puncak macet untuk daerah Sumatera. Pada awal perjalan ini saja pengetahuan bang Indra akan jalur terbukti sudah, kita melewati percabangan jalan tanpa lagi perlu melihat petunjuk arah, alias dia hapal setiap persimpangan di dalam kepalanya.

Kami berempat baru bertemu dengan bang Bayu baru sekitar jam 23.00 wib, sebelum jembatan penyeberangan yang melintasi jalan tol.

Perjalanan tidak langsung kami lanjutkan. Kesempatan bertemu ini sekalian juga dijadikan ajang istirahat sembari ngobrol dan beberapa batang udut, mendinginkan motor dan pantat yang mulai kepanasan.

Perjalanan dilanjutkan sekitar jam 23.15. dengan yang memimpin tetap bang indra dan sesekali oleh bang bayu. Dikarenakan macetnya jalan, kami tidak selalu berada dalam satu garis, sering kali kami harus berpencar jauh satu sama lain.

Dalam perjalanan ini bertemu dengan rombongan motor yang lainnya, namun sepertinya tidak ada yang sejauh perjalanan yang bakal kami tempuh beberapa puluh jam ke depan. Di sini juga dapat kami perhatikan adanya satu keluarga yang dibawa angkut dalam satu motor. Satu motor yang dinaiki oleh kepala keluarga, istri dan 2 orang anak, serta juga tidak ketinggalan beban yang mereka ikat dibelakang motor mereka. Sungguh kadang membuat khawatir bahwa kemungkinan bahaya yang akan mereka temui lebih berat dari kami berlima.

Sekitar pukul 01.00 wib, kira-kira stengah jam lagi ke pelabuhan, motor vixion bang bayu kehilangan tenaga. Setelah hampir 2 jam ngutak atik, belum juga menemui pencerahan. Akhirnya dengan kebesaran hati bang bayu mempersilakan kami berangkat lebih dahulu. Kami memang tidak bisa melakukan banyak hal. Vixion motor injeksi, sementara diantara kami tidak ada yang lebih mengerti akan sistem injeksi ini dibanding bang Bayu sendiri.

Akhirnya perjalanan kami lanjutkan kembali dengan formasi berempat, persis seperti pertama kali kami berangkat. Check Point kami berikutnya adalah Pelabuhan. Ada cerita menarik sebelum masuk pelabuhan. Bro Galih yang berada pada urutan ketiga tiba – tiba melambat, awalnya aku tidak tau kenapa dia melambat, akhirnya aku susul dia, dan memberikan isyarat agar dia mengikuti aku, dan aku terus tancap gas. Mengira ada lampu motor dari belakang itu adalah galih, aku tak jadi masalah, tapi ketika sadar itu bukan bro galih, aku pun memberikan isyarat kepada bang Indra dan bro rusdi buat berhenti menunggu bro galih. Parahnya kami tidak punya no kontak galih sama sekali, yang ada hanya pin bb dan itu pun dalam group bbm. Ini menurutku memang suatu kekurangan, belum menyimpan kontak satu sama lain.

Beberapa saat setelah itu Bro Galih muncul. Ternyata dia ketinggalan karena kehabisan bensin. Sejak itu lah kami mulai menyimpan no kontak masing-masing. Dan touring pun dilanjutkan kembali. Kami sampe di Pelabuhan sekitar pukul 3.15 wib dini hari.

Sesampainya di pelabuhan Merak antrian memasuki pelabuhan sudah mengular. Ada dua tahap antrian. Pertama antrian membeli tiket, kedua antian memasuki kapal. Ketika dalam antrian inilah aku tetap sahur, walau hanya berbekal roti gandum dan air mineral. Aku memang berniat dalam touring ini aku tetap menjaga ibadah puasa semampuku.

antrian di merak
Kami memasuki kapal sekitar pukul 4.30 wib. kapal yang kami tumpangi ini sepertinya memang dikhususkan untuk pengendara yang menggunakan sepeda motor. Hanya ada dua mobil yang diizinkan naik disamping keseluruhannya sepeda motor.
situasi di atas kapal 2
Setelah mencari tempat istirahat da dapat tidur sejenak, aku pun kembali bangun. Aku sadar kami berangkat ketika fajar menyising alias sunrise. Siapapun yang suka fotografi aku yakin tahu bahwa sunrise merupakan salah satu momen terbaik untuk mengambil fotografi alam.

Setelah berhasil mengambil beberapa jepretan, aku kembali ke tempat kami beristirahat tadi. Dan ternyata rekan-rekan ku sudah pada bangun. Jadilah aksi kami sampai kapal merapat selfi2an, untuk dikirim ke group bbm dan memanas-manasi Gelombang 1. Oy, aku belum memberi tahu bahwa sebenarnya mudik touring ini terbagi jadi dua gelombang. Yang pertama yang berangkat pada tanggal 20 Agustus, dan Gelombang ku yang berangkat pada tanggal 24. Terjadi dua gelombang itu karena pada dasarnya anggota Gelombang 1 itu memiliki jadwal libur yang lebih fleksibel dari kami yang gelombang 2 yang bisa dibilang lebih sempit.

DSC_1071DSC_1074
Kami merapat sekitar pukul 07.00 wib di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Jarak waktu antara pemberitahuan kepada penumpang untuk persiapan merapat hingga kapal parkir dan gerbang dek kapal dibuka ada sekitar 20-30 menit, dan selama itu pula sudah ada beberapa pengendara yang menyalakan kendaraannya. Dapat dibayangkan betapa tidak sehatnya udara di dek kapal tersebut, apalagi bagi penumpang yang membawa serta anaknya. Akan merusak pernafasan yang anak tentunya.

Setelah turun dari kapal kami langsung tancap gas mencari pom bensin terdekat. Pada pom bensin pertama ternyata sangat ramai, akhirnya kami memutuskan untuk mencari pom bensin yang berikutnya, yang tidak seramai pom bensin yang pertama. Pada pom bensin ini lah kami sedikit istirahat kembali, mengisi bahan bakar, serta menganjal perut bagi rekan-rekan ku yang tidak menjalani shaum.

on tri

 

Setelah istirahat tersebut perjalanan kembali kami lanjutkan dengan ritme 100 km atau 1 jam jalan, istirahat skitar 10-20 menit. Kadang 100 km atau 1 jam itu juga bukan jadi patokan. Jika pantat sudah merasa panas juga bisa jadi patokan untuk istirahat.

Touring kali ini bisa dibilang touring yang santai. Target kami minimal bisa berlebaran di rumah masing-masing, lebih cepat dari itu ya syukur. Sehingga touring ini benar-benar dapat kunikmati. Kami berfoto disetiap perbatasan provinsi, sementara aku sendiri mencoba mencuri-curi waktu untuk memotret pemandangan yang sekiranya menurutku bagus, sehingga tidak jarang aku ketinggala n dalam rombongan.

Perjalanan di Lampung benar-benar terasa lama sekali. Pagi kita sudah masuk Lampung Selatan, sore baru kita keluar Lampung Utara. Setiap daerah yang kami temui, kata Lampung tidak hilang, selalu nempel.

Target kami hari pertama itu dapat mencapai Muara Enim. Namun ternyata tidak berhasil. Pukul 18.300 wib di Baturajo kami dihadang hujan sehingga demi keamanan kami istirahat di pom bensin malam itu.

Perlu dicatat jalur tengah, jalur yang kami tempuh saat ini memang terkenal akan daerah rawannya, yakni antara perbatasan antara Lampung dengan Sumatera Selatan, hingga Muara Enim dan Lubuk Linggau. Karena itu tidak jarang untuk lewat disitu pemudik enderung untuk melewatinya ketika hari terang, pagi hingga sore hari, kecuali mereka cukup berani dengan melakukan konvoi.

Untuk mengantisipasi itu, pihak kepolisian juga terlihat telah meningkatkan pengamanannya. Hal ini bisa dilihat dengan adanya pos-pos pengamanan polisi yang berjarak sekitar 3-5 KM sepanjang jalur tersebut. Polisi-polisi yang berjaga juga dilengkapi dengan senjata api, yang benurut penglihatan ku si AK 47. Disamping itu pihak kepolisian juga menempelkan poster anggotanya beserta no kontak yang dapat dihubungi.

Selesai istirahat malam itu, kami berencana start berangkat besoknya pukul 04.00 wib. Prabumuli yang merupakan tujuan bro Galih sudah dekat dari posisi kami di Baturajo. Sekitar 2 jam perjalanan. Namun jalur yang ditempuh itu area hutan yang minim penerangan. Malam itu juga menjadi malam perpisahan kami dengan bro Galih, dia dijemput oleh saudaranya yang berada di Baturajo untuk menginap di tempatnya. Akhirnya keesokan paginya kami melanjutkan perjalan dengan personil 3 orang.

Hari sabtu keesokan paginya pukul 04.15 wib, touring pun dilanjutkan kembali. Kali ini cek point yang kita tuju adalah Muara Enim. Jalur ini wajar jika dibilang jalur yang rawan selain jalan yang menembus hutan, jalur ini pun berliku dan tidak jarang terdapat lubang-lubang yang cukup lebar dan dalam. Jadi wajar jika pengendara jika melewati jalur ini musti perlahan. Dan ini bisa dibilang sasaran empuk untuk tindak kejahatan.

Aksi pembelian bensin dengan derigen di salah satu pom bensin jalur Lubuk Linggau - Muaro Bungo

Aksi pembelian bensin dengan derigen di salah satu pom bensin jalur Lubuk Linggau – Muaro Bungo

Ada satu saran baik dari warga sekitar maupun orang-orang yang pernah melewati jalur ini, yakni jangan sekalipun melindas apapun yang ada dijalan, baik itu buah, kresek plastik, kardus atau sejenisnya, karena bisa jadi itu merupakan ranjau.

Setelah muara enim, terus menuju Lahat dan Lubuk Linggau. Jalur Lahat menurut saya salah satu tempat yang memiliki pemandangan yang bagus. Di samping kiri terdapat sungai yang indah mengalir. Disamping itu juga terdapat bukit yang sangan menarik. Bukit dengan puncak yang sangat runcing, seperti tangan yang menunjukkan ungkapan “ok”. Ketika mengambil foto tersebut aku sempat ketinggalan dari rombongan, karena aku memang tidak sempat minta ijin. Dasar inilah kebiasaan buruk ku, meninggalkan rombongan tanpa memberitahukan keinginan dadakan ku.bukit unik di lahat

Kami sampai di Lubuk Linggau sekitar pukul 12.00 wib. di sini kami cukup lama beristirahat. Disamping kami berfoto-foto ria dengan latar tulisan Lubuk Linggau di salah satu pom bensin di sana. Di sini juga kami kembali mengisi full bahan bakar.

Perjalanan kami berikutnya memasuki jambi. Dimana di sini terkenal dengan kelangkaan bahan bakarnya. Padahal disepanjang jalan, bahkan di depan SPBU sekalipun dijual bahan bakah eceran. Karena itu aku saranka ketika melewati kawasan ini agar mengisi penuh bahan bakarnya, agar tidak mengisi lagi hingga Muaro Bungo, apabila tidak mau membeli bahan bakar eceran.

Jalur Lubuk Linggau – Bangko, ada sekitar 100 KM, layaknya jalan tol Sumatera. Dikarenakan jalurnya yang lurus serta sepinya kendaraan yang melintas. Tali gas yang sudah diputer penuhpun, tidak kunjung usai-usai itu trak. Memang ini jalur yang membosankan menurutku.

Jarak antara Lubuk Linggau – Muaro Bungo sekitar —-, bang indra yang dengan motor Satria FU nya, harus beberapa kali membeli minyak eceran, demi kelancaran di jalan , karena tanki minyaknya yang memang kecil.

Kami menemukan pom bensin yang buka dan masih ada stok bahan bakarnya baru di Muaro Bungo. Di sini kami sampai sekitar pukul 08.00 wib. Ada hal menarik juga ketika mengisi bahan bakar di sini. Kami bertemu dengan anggota klub motor BRIGADE MEGAPRO chapter Muaro Bungo. Di sini kami diajak mampir dulu sekedar melepas lelah dan ngopi-ngopi. Karena merasa sungkan untuk menolak, akhirnya kami menerima tawaran tersebut. Kami diajak ke tempat tongkrongan mereka. Di sinilah kami sempatkan juga bertukar stiker dan berfoto bersama. Ketika menyudahi tongkrongan dan berniat melanjutkan perjalanan, kami dikawal bak seorang pejabat hingga perbatasan Muaro Bungo. Sungguh salah satu pengalaman yang luar biasa menurut ku. Terima Kasih BRIGADE MEGAPRO chapter Muaro Bungo.DSC_1136

Keluar dari Kota Muaro Bungo sekitar pukul 22.30 wib. Motor di gas lebih cepat dari pada biasanya, mengingat perbatasan dengan Sumatera Barat sudah semakin dekat. Benar saja, sekitar jam 23.00 kurang kami sudah sampai di perbatasan Jambi-Sumbar. Dan di sini kami sejenak berfoto-foto ria. Sekedar ingin membuktikan bahwa kami telah sampai ke Ranah Minang, Kampuang Tacinto.

Segalanya setelah sampai di Sumaterra Barat terasa dekat. Dari perbatasan kami bergerak menuju Darmasraya, Gunung Medan, dan Kiiranjao. Lewat dari Kiliranjao sudah lewat pukul 03.00 wib. sehingga suhu sangat dingin yang menusuk tulang. Selain itu rasa kantuk juga sudah menyerang. Bro Rusdi, yang biasanya tidak pernah ngantuk ketika berkendara, sampai – sampai keluar jalan raya saking ngantuknya. Untung tidak sampai jatuh bro galihnya, hehhe.shield of the sky

Dingin dan ngantuk sudah tidak tertahankan lagi. Maka kami putuskan untuk mencari tempat yang ngopi sekaligus yang bisa dijadikan tempat untuk istirahat sejenak. Akhirnya kami menemukan suatu tempat yang cocok seperti yang kami inginkan. Lampu-lampu masih menyala, namun penjaga warung sepertinya masih tertidur. Akhirnya aku beranikan untuk memanggil penjaga warung. Jam sudah menunjukkan 3.30, memang sudah waktunya juga untuk sahur. Setelah beberapa kali dipanggil, akhirnya ibu-ibu penjaga warung pun muncul, dan bisa lah kami mengisi perut dengan kopi susu dan indomi rebus. Dan aku sampai hari ke 3 perjalanan ini masih mempertahankan puasaku, jadi momen ini sekaligus untuk aku sahur.

Setelah sejenak tiduran dan sholat subuh, kami kembali melanjutkan perjalan. Titik perpisahan kami bertiga sudah dekat. Bang Indra yang tujuan akhir Pekan baru akan berbelok di Sawahlunto, sementara aku dan bro Rusdi rencananya akan berpisah di Solok.

Setelah bom bensin di Sawahlunto, kami berpisah dengan bang Indra. Sedangkan aku dan bro Rusdi lanjut arah Solok. Di tengah perjalanan kami berhenti di warung emperan yang menjajakan durian. Dan disana bro Rusdi memborong banyak durian. Aku berhubung tidak doyan durian, ya hanya bisa melihat saja.

Tidak terpisahanku dengan bro rusdi dipercepat, karena di tengah perjalanan menuju Solok aku mengunjungi warung yang menjajakan Semangka, yang aku niatkan untuk oleh-oleh di rumah. Dari sana aku melanjutkan perjalanan sendiri menuju Bukittinggi. Dan aku sampai di rumah sekitar jam 10.00 WIB.

Demikian lah kisah perjalanku.

Terima Kasih kepada Allah SWT., Kedua Orang Tua, dan rekan-rekan seperjalanan.

 

 

August 25, 2014 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: