Adibhasan's Blog

Just another WordPress.com site

Edelweis Merah Berduri (Part 6)


PO. Sahabat itu melaju menyursuri gerbang tol Jagorawi. Berlari memecah malam. udara dingin berhembus dari jendala-jendela bis tanpa air conditioner. perlahan mata ku yang tadi masih kuat menahan kantuk, mulai terasa sayu. Gelap meliputi mataku. Dan aku pun tertidur.

—–

Kepala ku tengadahkan ke langit memandang Purnama dengan bintang-bintang disekelilingnya. aroma rerumputan ditiup angin gunung menyerebak di udara. Udara yang bersih, bebas polusi. Sungguh indah malam ini, dengan latar Gunung Marapi yang berdiri dengan gagahnya.

Kukembalikan pandangan ku depan. 8 teman ku yang lain sudah makin menjauh tanpa kusadari. Ternyata memandangi langit sejenak tadi telah memperlambat langkahku. Sebelum mereka semakin jauh, kuperlebar langkah ku dan ku percepat mendekati mereka.

Satu jam, dua jam waktu terus berlalu. energi kami yang tadi terkumpul mulai terkurai. Azhari, salah satu tim yang paling banyak minum sepanjang pendakian. Padahal jika dilihat secara fisik jelas saja dia lebih atletis. Tapi Marapi telah menguras habis tenaganya. Tidak hanya dia, beberapa anak-anak juga memang sudah terlihat kelelahan.

Pemandangan yang cerah karena terang bulan sudah tidak tampak lagi. telah tergantikan dengan pemandangan hutan yang rapat. Ciri khas pegunungan Sumatera hanya mengandalkan bekas jalan pendaki sebelumnya,  tanpa adanya tanda rambu-rambu atau segala macamnya. jadi sangat berpotensi sekali untuk tersesat.

ke-9 pendaki ini hanyalah pendaki SMA pemula yang bermodal nekat. Tanpa ada pengetahuan sama sekali terkait dengan hutan gunung. Tapi itu lah kami 9 siswa kelas XI dari salah satu SMA terfavorit di Bukittinggi.

Hingga sampai pada titik Pintu Angin *). kebetulan aku tidak bawa penunjuk waktu sama sekali. namun perkiraan ku sekitar jam 1-2 malam. Langit yang cerah kembali menjadi atap perjalanan kami. Walau begitu senter-senter dari tangan kami tetap menyala menyapu medan di jalur depan. semakin lama, tingkat kecuramannya semakin meningkat. Dari langit yang cerah mulai terlihat keanehan, awan berarak dari arah utara dengan cepat mengarah ke arah gunung. Angin gunung berubah seketika menjadi angin lembah yang membawa butiran embun. jadilah udara nya beku menyelimuti sekitar kami. lampu-lampu senter yang tadinya kami arahkan ke bawah, sekarang kami arahkan ke atas.

Luar Biasanya, tangan kami bisa meraih ujung dari cahaya senter kami maisng-masing. leader kami mengomandoi untuk tidak bergerak. cari posisi senyaman mungkin, menunggu sampai awan kembali menghilang. Semua sepakat, karena akan sangat berbahaya juga meneruskan perjalanan ditengah cuaca seperti ini. Sesaat istirahat kami masih bisa bercanda ria. Salah satu teman ku yang membawa radio mulai menyetelnya. mencari frekuensi di atas gunung memang tidak mudah, klo pun itu pada besar kemungkinan adalah RRI. Tapi malam ini memang RRI lah yang dicarinya. siaran sepak bola Piala Dunia Antara Prancis melawan Italia.

Tak terasa perasaan lelah menyerang tubuh kami, dan kami semua tertidur.

Tidak tahu berapa lama kami tertidur, tiba-tiba saja aku sadar dan mencoba menutup mata. aku menyadari seluruh tubuhku kaku. tangan dan kaki ku tidak bisa ku gerakkan. Apakah ini Hypotermia. penyakit yang paling menakutkan setiap pendaki gunung ini menyelimuti pikiranku.

aku merasa sangat dengan kematian yang sangat. tak terasa kilatan-kilatan gambar-gambar semasa bercanda di ruang kelas meluncur mundur di dalam pikiranku. gambar teman, serta ibu dan bapak ku. apakah ini gambaran sebelum kematian??, aku pun berteriak dalam hati…

aaaakkkk…

Tetiba ada sebuah tangan yang mencoba mengoncang pundak ku. Dan suaranya tentu saja aku ingat. Are, ternyata dia mencoba menyadarkan setelah teriakan ku tadi. Ternyata aku kembali bermimpi akan pengalaman pertama ku saat mendaki Gunung Marapi di Bukittinggi kampung tercinta ku. Pengalaman yang kurasa paling dekat dengan kematian.

PO sahabat telah lama  melewati Pasar Ciawi. beberapa waktu kemudian, turunlah kami di Pasar Cipanas. Di sana lah aku bertemu sahabat ku satu lagi, Edi.

———————–

*) titik perbatasan vegetasi, antara hutan kering dan cadas batu.

February 12, 2015 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: